Loading...
Please wait, while we are loading the content...
Similar Documents
Makalah ini membahas hadis larangan perempuan menjadi pemimpin yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah melalui perspektif hermeneutis. Faktor yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah masih banyak orang yang memahami bahwa perempuan adalah makhluk kedua, yaitu "konco wingking". Jadi, mereka tidak
| Content Provider | Semantic Scholar |
|---|---|
| Author | Budaya, Sosial Dan |
| Copyright Year | 2018 |
| Abstract | Article Info This paper discusses the hermeneutical perspective of the prohibition for women to become leaders hadith narrated by Abu Bakrah. The factor that became the background of this study is that there are still many people who understand that women are the second creature, namely "konco wingking". So, they are not deserve to be a leader for people. One of the normative bases is the hadith narrated by Abu Bakrah. The textual-literal understanding of the hadith has implications for the role of women in the public sphere so that there needs to be someone who can answer and place women to their proper degree. This study uses a qualitative method with Schleiermacher hermeneutics approach.The results of this research are the Hadith about the ban on women becoming leaders who narrated by Abu Bakrah through grammatical hermeneutics and psychological perspective cannot be applied in General. Thus, there are no restrictions for women today to be a leader for the people because they currently have a different social background when the Hadith it comes. Abstrak Makalah ini membahas hadis larangan perempuan menjadi pemimpin yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah melalui perspektif hermeneutis. Faktor yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah masih banyak orang yang memahami bahwa perempuan adalah makhluk kedua, yaitu "konco wingking". Jadi, mereka tidak pantas menjadi pemimpin bagi manusia. Salah satu landasan normatif adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah. Pemahaman tekstual-literal dari hadis memiliki implikasi untuk peran perempuan di ruang publik sehingga perlu ada seseorang yang dapat menjawab dan menempatkan perempuan pada tingkat yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Hermeneutika Schleiermacher. Adapun hasil dari penelitian ini adalah hadits tentang larangan perempuan menjadi pemimpin yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah melalui perspektif hermeneutika gramatikal dan psikologis Schleiermacher tidak dapat diterapkan secara umum. Dengan demikian, tidak ada larangan bagi perempuan saat ini untuk menjadi pemimpin bagi orang-orang karena saat ini mereka memiliki latar sosial yang berbeda ketika hadis itu datang. Article History Received : 14-11-2018, Revised : 27-12-2018, Accepted : 28-12-2018 |
| File Format | PDF HTM / HTML |
| Alternate Webpage(s) | https://journal.iaimnumetrolampung.ac.id/index.php/jf/article/download/350/284 |
| Language | English |
| Access Restriction | Open |
| Content Type | Text |
| Resource Type | Article |