Loading...
Please wait, while we are loading the content...
Similar Documents
Karya sastra selama ini dipelajari secara otonom dan terlepas dari kejadian
| Content Provider | Semantic Scholar |
|---|---|
| Author | Masanya, Politik Sastra, Karya Antaranya, Yang Di Politik, Mengangkat Masalah Berguna, Dianggap Tidak Dapat, Karena Tidak Padahal, Dipertanggungjawabkan. Membidik, Karya Sastra Masalah, Kenyataan Secara, Politik Beberapa, Berbeda. Lalu, Waktu Yang Dibaca, Karya Sastra Kebenaran, Dengan Cara Mengungkap Dibaca, Sedangkan Saat Ini Teori, Dengan Pencarian, Yang Berpusat Pada Dikemukakan, Makna Yang Sendiri, Oleh Diri Kunci, Kata Politik, Filsafat Politik, Etika Simbolik, Kekerasan |
| Copyright Year | 2018 |
| Abstract | Karya sastra selama ini dipelajari secara otonom dan terlepas dari kejadian politik masanya. Karya sastra yang di antaranya mengangkat masalah politik dianggap tidak berguna karena tidak dapat dipertanggungjawabkan. Padahal, karya sastra membidik kenyataan (masalah politik) secara berbeda. Beberapa waktu yang lalu karya sastra dibaca dengan cara mengungkap kebenaran mendekati kebenaran pengarang/penulis, sedangkan saat ini dibaca dengan teori yang berpusat pada pencarian makna yang dikemukakan oleh diri sendiri sebagai pembaca. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah metode kualitatif berdasarkan pembacaan Kekerasan Simbolik Pierre Bourdieu dan dinterpretasi lewat hermeneutika Paul Ricoeur (Fenomenologi Eksistensial), yang mendasarkan diri pada peran seni pemahaman untuk memberikan tempat kepada refleksi politik berupa etika politik. Novel Nyali karya Putu Wijaya merupakan ciri dasariah keberadaan manusia di dunia sejarawi dan terbatas ini. Konsep Ricoeur dimanfaatkan untuk menginterpretasi teks lewat apropriasi/pemahaman diri. Pemikiran hermeneutika Paul Ricoeur mengenali tantangan pokok refleksi filsafat tentang unsur-unsur dasariah pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyali merupakan karya Putu Wijaya yang memenuhi syarat sebagai teks dan fiksi politik, yang berarti memenuhi syarat sebagai wacana politik. Nyali menanggapi pergantian kekuasaan pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru. Nyali menyoroti tokoh Kropos dari perjalanannya menjadi tentara sebagai Kopral yang menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa pada atasan dan korpsnya. Dalam teks Nyali didapat proposisi kekerasan simbolik tentara berupa indoktrinasi, kepatuhan, dibohongi, strategi penguasaan, komando dari tentara yang berpangkat tinggi ke pangkat yang lebih rendah. Refleksi kritis dan etika politik dari teks berupa refleksi keseharian warga yang menurun militer. Kehadiran militer telah sampai pada ranah individu dan sosial terutama dalam konsep keamanan. Hal tersebut memperlemah dalam menghadapi kekerasan simbolik yang membuat warga hilang kekritisannya. Kehilangan kekritisan tersebut dapat menyebabkan warga negara apatis atau sebaliknya, gampang digiring ke wacana publik yang berkembang di masyarakat tanpa mempertimbangkan akal sehat. Dalam mekanisme kekerasan simbolik, didapatkan tambahan bahwa ambisi kekuasaan dan lingkungan militeristik, di samping representasi, bahasa, dan simbol yang sudah ditemukan sebelumnya oleh Bourdieu turut meperkeruh kekerasan simbolik. Dalam temuan teoretik penelitian ini hanya memperkaya teori Bourdieu, didapatkan pula proposisi bahwa mempelajari karya sastra perlu memahami juga politik yang berkembang di sekitar pembaca sehingga pembaca dapat bersikap kritis terhadap gejala politik yang ada dan tidak terulang lagi kesalahan-kesalahan di masa lalu |
| File Format | PDF HTM / HTML |
| Alternate Webpage(s) | http://repository.unair.ac.id/71847/1/ABSTRAK_Dis.S.03%2018%20Set%20n.pdf |
| Language | English |
| Access Restriction | Open |
| Content Type | Text |
| Resource Type | Article |